Malam itu,
Kau mengajakku keluar, jalan jalan menikmati udara malam hari, katamu
"Aku ingin ngopi", "Disini tempat ngopi yang enak dimana ya?"
"Kenapa nggak bikin sendiri aja? hahaha"
"Ah itu mah kopi sachet-an, aku maunya kopi yang diracik ituloh"
Aku diam, sejak kapan kau suka kopi?
Akhirnya kita sampai pada suatu cafe, yang pengunjungnya hanya kita berdua.
Kita duduk berhadapan, kamu memesan V60 dan bertanya aku ingin pesan apa
"Samakan saja denganmu"
"Yakin? Kalo nanti kupesankan kopi yang asam gimana?"
Aku berpikir sebentar,
"Yaudah, nggak jadi. Sini, kasih tau aku yang mana kopi yang manis" seraya menarik buku menu dari tangannya.
"Deretan sini yang bisa manis"
Mataku bergulir melihat menunya. Astaga, dengan harga yang sama, aku bisa membeli mie ayam plus es teh manis diluar sana. Enak, kenyang juga.
Akhirnya aku memesan Espresso,
'Ini sudah banyak di iklan-iklan, mungkin rasanya enak' batinku.
Kita berbincang santai saat menunggu pesanan tiba,
Kamu merogoh saku jaketmu, dan mengeluarkan sebungkus rokok lengkap dengan koreknya.
Mengambil sebatang, membakar ujungnya dengan korek, lalu menghisapnya.
Singkatnya, kamu merokok.
Aku terkejut,
Tak pernah kutahu kau menjadi seorang perokok.
Sejak kapan?
Malam itu,
Kita berdua, berbincang ditengah dinginnya malam
Menciptakan suasana hangat
Antara aku dan dirimu
Dengan secangkir kopi masing-masing di hadapan kita
dan sepuntung rokok, yang kau sisipkan diantara kedua sela jarimu.
Bandung telah banyak merubahmu.
"Anginnya bikin asapnya ngarah ke kamu ya? Tuker tempat aja yuk"
Aku mengangguk.
Kita bertukar tempat,
kamu masih tetap gentle
Ternyata kamu lebih peduli aku daripada paru-parumu sendiri.
Aku tidak suka perokok,
aku tidak suka kamu merokok.
Tapi aku tak tahu, mengapa aku masih bisa merasa nyaman saat dekatmu.
Aku malah terpesona,
kala kamu menyuruhku bertukar tempat duduk
kamu masih gentle, seperti dahulu.
"Kamu suka minum kopi?"
"Suka, kalau begadang buat ngerjain tugas"
Aku berbohong, hanya sekali-dua kali aku mengerjakan tugas sambil ditemani kopi.
"Ini, mau coba kopiku?" dia menyodorkan gelas kopinya
Aku mencicipinya, perlahan-lahan
astaga, itu asam.
Padahal selama ini yang kutahu rasa kopi itu pahit.
"Hahaha, gimana?" katanya saat melihat perubahan raut wajahku
"Itu asam"
"Tapi ini enak, bagiku hehe"
Aku mencicipi kopiku,
'Ini pasti lebih baik dari kopinya'
Ternyata aku salah, kopi ini pahit.
Tapi setidaknya, lebih baik pahit daripada asam.
'Tenang saja, untung diberi gula 2 sachet. Aku masih bisa menambah gula agar kopinya menjadi manis'
Kita bercerita mengenai apa saja
Sebenarnya, kau yang lebih banyak bercerita
Sedang aku menjadi pendengar setiamu
Itu tak masalah, setelah sekian lama tak bertemu, aku rindu curahan hatimu.
Kau mematikan rokokmu, membuangnya di asbak, lalu mengambil lagi yang baru
Begitu terus, berulang-ulang
Sampai asbaknya terisi 3 puntung rokok,
dan di sela jarimu masih ada 1 puntung rokok yang masih terbakar.
Kau.. perokok kuat
Tak pernah kudengar suara batuk saat kau merokok,
kau sudah sering merokok disana?
Atau mungkin, terlanjur sering?
Aku ingin melarangmu,
atau setidaknya protes.
Tapi, aku ini siapa?
Kita sudah sama-sama tahu,
sudah pintar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Merokok itu hakmu, jelas.
Meski begitu, tetap saja rasa kecewa menyeruak dalam diriku.
Namun, apa artinya rasa kecewaku ini?
Esok juga pulih.
Kita sama-sama tahu --atau mungkin aku saja yang tahu, kau tidak--
berulang kali ku mencoba jauh darimu
berulang kali kutanamkan rasa kesal, amarah, bahkan rasa kecewa pada dirimu,
dan berulang kali kucoba lupakanmu.
Namun, kita bertemu lagi disini.
Sejauh apapun aku pergi,
sebanyak apapun aku memblokir nomormu,
Akhirnya, kau selalu berhasil membawaku kembali.
Aku sudah lelah,
aku sudah lelah menghindarimu yang selalu saja kutemukan,
aku sudah lelah membencimu yang pada akhirnya selalu saja gagal.
Kumohon, kali ini aku menyerah.
Biarkan saja rasa ini menghilang dengan sendirinya.
Rasamu, dan rasaku.
Kamu menceritakan segalanya,
bagaimana kuliahmu disana,
siapa saja teman-temanmu,
apa yang kamu lakukan di saat bosan,
kapan kamu pindah kosan,
pokoknya semuanya.
Aku selalu memperhatikan,
aku selalu menatap matamu saat kau sedang bercerita,
terkadang pandangan mata kita bertemu,
lalu buru-buru kau alihkan ke objek lain.
Kamu malu,
aku tahu itu,
dan aku senang melihatnya.
Kopi di gelas kami semakin menyusut,
tak tahu perginya kemana,
aku terlalu fokus pada dirimu.
"Aku mau nyobain kopimu, dong. Boleh?"
"Oh iya, maaf ya aku lupa nawarin tadi, hehehe"
Dia menyeruputnya.
"Ini terlalu manis"
"Itu karena kamu minumnya sambil lihat aku"
Senyumnya mengembang,
begitu pula dengan senyumku.
"Sudah malam, ayo pulang. Aku harus mengembalikan kamu ke rumah"
Aku tersenyum, kopiku sudah habis.
Dia pergi membayar 2 gelas kopi kami.
"Besok mari bertukar cerita lagi"
Kamu badboy,
tapi aku tetap saja nyaman bersamamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar