Kamis, 29 Desember 2022

Sebentar lagi,

 Hai..

Bagaimana kabarmu?

Masih sering kah kamu disambangi mimpi buruk yang kerap mengganggu tidurmu?

Masih sering kah kamu disepelekan oleh orang-orang sekitar?

Masih baik kah kamu pada dirimu sendiri?

---

Dunia memang nggak selamanya baik, tapi bertahanlah sebentar lagi. Bertahanlah untuk senja yang indah, bertahanlah untuk sebungkus mie di dini hari yang aromanya sangat menggoda.

Percayalah masa depan nggak se-menyeramkan itu. Banyak hal-hal baik yang menunggumu di depan sana. Jangan berputus asa. 

---

Minggu, 08 Mei 2022

Hampa

Halo, ternyata gue masih dikasih waktu buat buka blog ini dan bercerita lagi tentang beberapa hal yang terjadi di hidup gue belakangan ini.


Semester 8 ternyata se-hampa ini ya? Berat, sepi, ya pokoknya berhasil bikin gue mellow hampir tiap hari. Ramadhan baru aja berlalu, nggak seperti tahun-tahun sebelumnya, gue nggak buka blog ini pas ramadhan kemarin. Tahun ini gue mudik ke kampung ayah setelah 5 tahun nggak mudik, dan daripada di cap sebagai Abang Toyib yang lupa kampung, jadi tahun ini kita memutuskan untuk 'setor muka' di kampung ayah. 

Gue nunggu dijemput di kos, setelah itu otw ke kampung ayah. 5 hari disana, balik lagi ke kos gue, nginep 2 hari, mereka pulang ke rumah sedangkan gue masih setia jadi satpam kosan.

Hari-hari gue dipenuhi rasa takut, overthink, anxiety, perihal masa depan. Bakal jadi apa ya gue di masa depan? Bisa nggak ya gue lulus tepat waktu? Habis lulus kerja dimana ya? Temen-temen gue makin kesini makin dikit, nggak heran, karena mereka juga pasti sama penatnya mikirin masa depan, persis kayak gue.

Satu-satunya lingkup pertemanan yang masih gue rawat dengan sangat baik sampai saat ini adalah pertemanan antar penyewa kamar kos di lingkungan kamar kos gue. Cuma mereka yang bisa gue andalkan buat ini itu, dengerin cerita dan keluh kesah gue, ngelakuin aktivitas bareng bareng. Semester 8 berat, tapi untungnya gue punya teman-teman kos yang senasib seperjuangan, yang beneran supportif bahkan untuk hal terkecil pun. Gue beruntung punya lingkup pertemanan kayak mereka yang bisa nerima gue apa adanya walau diselipin omelan dan ocehan dikit, kadang. Rela telinganya gue pinjem buat dengerin cerita-cerita random gue, mulai dari cerita paling sedih sampai cerita ter-nggak jelas yang pernah terucap dari mulut gue.

Udah sampai di titik ini, banyak banget yang berubah. Terutama wajah gue, jerawat efek stress muncul dimana-mana. Gue tiba di situasi yang bikin gue males ketemu orang karena insecure parah, tapi disaat yang bersamaan temen-temen kos gue malah menyemangati gue kalo semua itu gapapa, mereka juga ngasih gue beberapa rekomendasi skincare yang barangkali bisa membantu gue menyelesaikan masalah dengan jerawat-jerawat ini. Sikap dan perilaku gue pun perlahan-lahan mulai berubah, gue mulai belajar gimana cara nolak ketika gue keberatan terhadap sesuatu, gue mulai berani mengutarakan pendapat yang mana selama ini gue selalu ngerasa pendapat gue ga penting-penting amat jadi selalu gue pendem sendiri. Gue juga diajarin tentang gimana menerima perasaan dari diri gue sendiri, gue berhak sedih, gue boleh banget marah ke orang lain, bahkan gue juga gapapa banget untuk menangis. Bersama mereka, gue mulai bisa memahami diri gue sendiri, pelan-pelan.

Pernah suatu waktu, gue menyadari kalo gue jarang banget sakit. Kegiatan macem-macem, tidur pagi hari 2-3 jam doang, kehujanan, ini itu, tetep nggak sakit. Belakangan gue mulai menyadari, iya bener gue emang nggak sakit secara kasat mata, tapi barangkali badan gue bakal abis lama lama, rambut rontok kian hari makin banyak jumlahnya, tanpa gue sadari berat badan gue juga semakin menurun.

Tapi gue yakin bakal bisa melewati ini semua, kalau nanti di masa depan gue punya takdir dan jalan hidup yang baik, gue bakal bantu orang-orang yang selama ini udah bantu gue. Untuk sekarang, gue cuma bisa bantu tenaga, bantu buat minjemin telinga gue atau apapun yang gue punya, bantu buat tetap ada pas mereka butuh gue.


Gue sayang lo semua.

Jumat, 04 Juni 2021

Sekadar cerita

Hua hahahaha akhirnya masih ada kesempatan untuk sekadar buka blog ini dan ngoceh ngoceh bentar yak.

Mau cerita aja, siapapun kalian yang lagi baca ini, baik yang kenal secara pribadi denganku atau yang cuma gabut dan gak sengaja ketemu blog ini. Semoga kalian sehat selalu ya, jangan sakit-sakit, semoga bahagia selalu menyertai kalian semua.

Time flies, gak kerasa udah tahun 2021. dari mulai masjid di depan rumahku masih dibangun sampe sekarang udah bagus dan ada lapangan yg cem kolam renang dan lapangan futsal wkwkwk

Pun terkait dengan masalah hati, dengan si dia yang kutemui di tahun pertama SMA lalu selesai, bertahan dengan orang yang sama sampai 2 tahun dan cukup sulit untuk proses move on nya, teman SD yang masih keep-in-touch sampai sekarang dan masih sering sekadar ngajak ngopi sambil ngobrol-ngobrol tipis, dia yang jauh disana tapi selalu support tentang apapun yang sedang kulakukan, dan beberapa teman angkatan yang kukira terlibat cinlok karena 1 project denganku.

Ah tapi apapun itu, sekarang aku masih bahagia menjalani kehidupan sendiri. Ternyata diriku sendiri masih terlalu sibuk untuk menjalin hubungan baru dengan yang lain. Masih ingin mengembangkan diri dan menikmati masa-masa sibukku sendiri.

Dah, selamat tinggal lagi. Aku sedang menjalani pembekalan KKN dan nantinya akan dilanjutkan dengan Kerja Praktik di semester yang sama. Fyuh, semester 6 ternyata seberat ini ya. 



Selasa, 16 Februari 2021

2020 dan 2021

Halo! Kembali lagi denganku, aku tahu akun ini sudah lama tak kugunakan. Entah siapa juga yang akan membaca tulisan ini. 

Ini sudah tahun 2021, sudah 2 tahun lewat sejak aku post tulisan terakhir di blog ini. Aku kini sudah kuliah, aku mengambil jurusan teknik. Wah, aku ngerasa keren banget karena berhasil bertahan sampai sejauh ini, di program studi yang di-cap keras pada stigma masyarakat.

Sudah cukup banyak asam pahit kehidupan yang kuterima, baik masalah asrama, ekonomi, berdebat dengan diri sendiri, dan banyak lainnya.


Kali ini, aku sedang sendiri. 2020 telah memisahkan aku dengan mantanku yang sudah menjalin hubungan selama 2 tahun lebih, maaf karena aku tidak menulis tentang dirinya dalam blog ini. 

Aku juga tidak terburu-buru mencari penggantinya, karena setelah putus, aku malah merasa bisa menjadi diriku seutuhnya. 


Setelah putus pun, ada banyak yang mendekatiku. Tapi aku benar-benar ingin fokus mencintai diriku sendiri, seutuhnya, sepenuhnya. Bukannya terkesan mencampakkan mereka, namun sebisa mungkin aku memberi tahu kepada mereka, keadaaanku yang sesungguhnya.

Ada beberapa yang memilih pergi setelah mendengarkan jawabanku. Namun beberapa sisanya tetap singgah menemani. 

2020 sungguh tahun yang sulit, tapi aku bersyukur karena mampu melewatinya.

Selasa, 08 Januari 2019

Denganmu

Malam itu,
Kau mengajakku keluar, jalan jalan menikmati udara malam hari, katamu

"Aku ingin ngopi", "Disini tempat ngopi yang enak dimana ya?"
"Kenapa nggak bikin sendiri aja? hahaha"
"Ah itu mah kopi sachet-an, aku maunya kopi yang diracik ituloh"

Aku diam, sejak kapan kau suka kopi?

Akhirnya kita sampai pada suatu cafe, yang pengunjungnya hanya kita berdua.

Kita duduk berhadapan, kamu memesan V60 dan bertanya aku ingin pesan apa
"Samakan saja denganmu"
"Yakin? Kalo nanti kupesankan kopi yang asam gimana?"

Aku berpikir sebentar,
"Yaudah, nggak jadi. Sini, kasih tau aku yang mana kopi yang manis" seraya menarik buku menu dari tangannya.
"Deretan sini yang bisa manis"

Mataku bergulir melihat menunya. Astaga, dengan harga yang sama, aku bisa membeli mie ayam plus es teh manis diluar sana. Enak, kenyang juga.

Akhirnya aku memesan Espresso,
'Ini sudah banyak di iklan-iklan, mungkin rasanya enak' batinku.


Kita berbincang santai saat menunggu pesanan tiba,
Kamu merogoh saku jaketmu, dan mengeluarkan sebungkus rokok lengkap dengan koreknya.
Mengambil sebatang, membakar ujungnya dengan korek, lalu menghisapnya.
Singkatnya, kamu merokok.

Aku terkejut,
Tak pernah kutahu kau menjadi seorang perokok.
Sejak kapan?

Malam itu,
Kita berdua, berbincang ditengah dinginnya malam
Menciptakan suasana hangat
Antara aku dan dirimu
Dengan secangkir kopi masing-masing di hadapan kita
dan sepuntung rokok, yang kau sisipkan diantara kedua sela jarimu.

Bandung telah banyak merubahmu.

"Anginnya bikin asapnya ngarah ke kamu ya? Tuker tempat aja yuk"
Aku mengangguk.
Kita bertukar tempat,
kamu masih tetap gentle

Ternyata kamu lebih peduli aku daripada paru-parumu sendiri.

Aku tidak suka perokok,
aku tidak suka kamu merokok.
Tapi aku tak tahu, mengapa aku masih bisa merasa nyaman saat dekatmu.
Aku malah terpesona,
kala kamu menyuruhku bertukar tempat duduk
kamu masih gentle, seperti dahulu.


"Kamu suka minum kopi?"
"Suka, kalau begadang buat ngerjain tugas"
Aku berbohong, hanya sekali-dua kali aku mengerjakan tugas sambil ditemani kopi.

"Ini, mau coba kopiku?" dia menyodorkan gelas kopinya

Aku mencicipinya, perlahan-lahan
astaga, itu asam.
Padahal selama ini yang kutahu rasa kopi itu pahit.

"Hahaha, gimana?" katanya saat melihat perubahan raut wajahku
"Itu asam"
"Tapi ini enak, bagiku hehe"

Aku mencicipi kopiku,
'Ini pasti lebih baik dari kopinya'
Ternyata aku salah, kopi ini pahit.
Tapi setidaknya, lebih baik pahit daripada asam.
'Tenang saja, untung diberi gula 2 sachet. Aku masih bisa menambah gula agar kopinya menjadi manis'

Kita bercerita mengenai apa saja
Sebenarnya, kau yang lebih banyak bercerita
Sedang aku menjadi pendengar setiamu
Itu tak masalah, setelah sekian lama tak bertemu, aku rindu curahan hatimu.


Kau mematikan rokokmu, membuangnya di asbak, lalu mengambil lagi yang baru
Begitu terus, berulang-ulang
Sampai asbaknya terisi 3 puntung rokok,
dan di sela jarimu masih ada 1 puntung rokok yang masih terbakar.

Kau.. perokok kuat

Tak pernah kudengar suara batuk saat kau merokok,
kau sudah sering merokok disana?
Atau mungkin, terlanjur sering?


Aku ingin melarangmu,
atau setidaknya protes.
Tapi, aku ini siapa?

Kita sudah sama-sama tahu,
sudah pintar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Merokok itu hakmu, jelas.

Meski begitu, tetap saja rasa kecewa menyeruak dalam diriku.

Namun, apa artinya rasa kecewaku ini?
Esok juga pulih.

Kita sama-sama tahu --atau mungkin aku saja yang tahu, kau tidak--
berulang kali ku mencoba jauh darimu
berulang kali kutanamkan rasa kesal, amarah, bahkan rasa kecewa pada dirimu,
dan berulang kali kucoba lupakanmu.

Namun, kita bertemu lagi disini.

Sejauh apapun aku pergi,
sebanyak apapun aku memblokir nomormu,

Akhirnya, kau selalu berhasil membawaku kembali.

Aku sudah lelah,
aku sudah lelah menghindarimu yang selalu saja kutemukan,
aku sudah lelah membencimu yang pada akhirnya selalu saja gagal.

Kumohon, kali ini aku menyerah.
Biarkan saja rasa ini menghilang dengan sendirinya.
Rasamu, dan rasaku.


Kamu menceritakan segalanya,
bagaimana kuliahmu disana,
siapa saja teman-temanmu,
apa yang kamu lakukan di saat bosan,
kapan kamu pindah kosan,
pokoknya semuanya.
Aku selalu memperhatikan,
aku selalu menatap matamu saat kau sedang bercerita,
terkadang pandangan mata kita bertemu,
lalu buru-buru kau alihkan ke objek lain.
Kamu malu,
aku tahu itu,
dan aku senang melihatnya.


Kopi di gelas kami semakin menyusut,
tak tahu perginya kemana,
aku terlalu fokus pada dirimu.

"Aku mau nyobain kopimu, dong. Boleh?"
"Oh iya, maaf ya aku lupa nawarin tadi, hehehe"

Dia menyeruputnya.
"Ini terlalu manis"

"Itu karena kamu minumnya sambil lihat aku"

Senyumnya mengembang,
begitu pula dengan senyumku.


"Sudah malam, ayo pulang. Aku harus mengembalikan kamu ke rumah"
Aku tersenyum, kopiku sudah habis.
Dia pergi membayar 2 gelas kopi kami.


"Besok mari bertukar cerita lagi"


Kamu badboy,
tapi aku tetap saja nyaman bersamamu.

Kamis, 17 Mei 2018

Cerpen Ramadhan #1 : Teman tapi..

Ti(k)to(k)
Miiiirr, banguuunn. Sahur kaga luuu. Awas telat wey
Ti(k)to(k)
P
Ti(k)to(k)
P
Ti(k)to(k)
P
Ti(k)to(k)
Weeey
Ti(k)to(k)
P
Ti(k)to(k)
Kebo amat sih lu buseett
Mira
Iyee ini udah bangun yailaaa. Brisik amat lu
Ti(k)to(k)
Makan yang banyak yee, biar kuat buat pura pura bahagia. hehehe
Mira
Bacot ew
Ti(k)to(k)
Yauda sampe ketemu besok. Bye bye.


Gue menghempaskan hp ke kasur, mencoba buat tidur lagi. Tapi sayangnya, omelan nyokap lebih dulu nyampe ditelinga gue.

"Miraaaaa, banguuuun. Ditinggal sahur niih"

Mau gak mau gue mesti turun, duh plis ini mata cuma 5 watt. Ntar di tangga gue nyungsep kaga yaa

__________

Gue Mira, remaja 17 tahun lewat 10 bulan 3 hari. Gue kelas 3 SMA, gue nggak termasuk kakak hitz di sekolah, bukan juga anak kutu butu yang sering dipanggil dapet penghargaan ini itu. Bukan anak bandel bandel amat sampe keluar masuk ruang BK. Di mata orang lain sih gue biasa biasa aja, tapi gue nganggepnya gue ini remaja yang luar biasaaa hehe


Gue punya temen, Tito namanya. Temen dari SD sampe sekarang masih aje akrab. Kata temen gue si, gaada hubungan pertemanan yang murni antara cewek sama cowok. Eh, tapi kan Tito bukan cowok hehehe, dia cerewet banget anjir udah kek cewek


Waktu itu pernah gue tanyain "To, lu suka ga si sama gue?" terus dia malah jawab "Ya nggak lah anjir, lu kegeeran banget sii parah HAHAHA"

Yaudah, gue males jadinya nanya kayak gitu lagi


Tiap hari gue sama dia berangkat bareng, sampe dapet julukan "Dua Sejoli yang tak terpisahkan" -_-
Gak jarang gue dapet pertanyaan "Lu jadian yaak sama tito" atau "Udah napa lu jadian ajeee wkwkw" "Udah kenal lama juga masi aee kaku, yaelah" sumpah gue gondok amat sama pertanyaan kek gitu.

Tito sendiri bisa dibilang kakak hitz di sekolah gue. Banyak adek kelas yang naksir doi, hmm. Padahal nih ye kalo mereka tau belangnya tito kek apa, bakal mikir mikir lagi kali buat suka sama tito. Bahkan pernah waktu itu ada yang sampe ngechat gue, isinya
"Kak, tolong comblangin gue sama tito dong."

Yaudah gue bales aja "Apa imbalannya buat gue?"

"Gue traktir mi ayam deket sekolah sepuasnya kakak deh"


Wah tanpa pikir panjang langsung gue iya-in dong wkwkwk. Dan bener aja, selang sebulan mereka jadian, meski ceweknya yang nembak duluan, mungkin karena gaenak juga jadi tito nerima. Gue makan 3 piring mi ayam, sampe gue kekenyangan wkwk. Yaa walaupun jadiannya cuma 3 hari sih, soalnya tito keburu tau kalo gue yang nyomblangin mereka. Terus habis kejadian itu Tito ngambek berhari hari sama gue. Gue pulang pergi sekolah naik angkot sendiri. Mana rumah gue teh jauh, tega banget dah tu anak. Dia sempet nanya sama gue waktu itu "Kalo lo emang mau mi ayam atau apa, bilang sama gue. Jangan ngerjain anak orang, jangan mainin perasaan orang juga" Habis itu gue gak mau lagi jadi mak comblang.


Temen gue, Arin pernah nanya kayak gini ke gue 
"Mir, lu tuh sebenernya ada rasa gak sih sama tito?"
"Dih apaansi, kagak laaah. Ngapain gue suka sama udel kukang hahahaha"
"Oh, yaudah. Gue pen deketin tito lah yaa"
"Sono sok deketin, tapi kalo ntar lu nangis jangan ke gue yee hehe"


Sebenernya kalo ditanya suka apa nggak, gue gabisa jawab. Gatau kenapa rasanya nyaman aja sih deket tito, berasa dijagain terus. Pernah berharap tito punya rasa yang sama kek gue, tapi kayaknya nggak deh.

Malem ini, habis shalat tarawih gue ngecek hp, udah ada satu chat. Ya darimana lagi kalo bukan si tiktok :3


Ti(k)to(k)
Tadi gue shalat tarawih di masjid deket rumah lu.
Gue tengak tengok kek anak ilang nyariin elu, ternyata shaf cewek banyak banget anjir, hahahah
Mira
lu lagian wkwk kek di deket rumah lu gaada masjid aeee
Ti(k)to(k)
Kangen si habisnya sama lu hehe

Gue nggak bales, males ah ngeladenin tuh anak. Biasanya kalo tiba tiba berubah kek gitu ada apa apa nih anak, ada maunya -_-

Ti(k)to(k)
Yaelah mir, gue serius.
Salah ga si kalo gue punya rasa lebih sama lu?


Waduuuh, apaan si ini si Tito, tumben tumbennya

Mira
Maksud lu?
Ti(k)to(k)
Kayaknya gue suka deh sama makhluk abstrak kek elu ini, salah gak sih?
Mira
Apaan si, lagi dibajak ye ini?
Ti(k)to(k)
Nggak mir, yaelah. Gue udah lama suka sama lu.
Mira
Terus?
Ti(k)to(k)
Terus gimana maksudnya?
Mira
Lu nggak mau mengajukan pertanyaan kek, "Lu suka juga gak sama gue?" atau apa kek gitu
Ti(k)to(k)
Nggak, kan gue cuma mau ngasih tau perasaan gue aja. Gue takut ngerusak persahabatan kita mir. Kalo lu ada rasa sama gue juga, terus ntar kita jadian. Nah kalo nanti nantinya ada masalah, kita harus putus. Terus ntar kita jadi sosok asing, ga tegur sapa lagi, gabisa seru seruan kayak gini lagi. Gue gamau kayak gitu mir

krek

Ternyata gini ya permasalahan sahabat yang sama sama suka


Gue hempasin hp ke sembarang arah, gak berniat lagi melanjutkan percakapan sama si Tito. Dia nggak salah, gue nya aja yang terlalu berharap hubungan ini lebih dari sahabat


'Tring'
Ada pesan masuk, gue males malesan ambil hpnya

Ti(k)to(k)
Lo gausah khawatir, rasa ini bakal gue jaga. Do'ain aja ntar gue bisa kerumah lu buat ngelamar..


ngelamar adek lu maksudnya hehe


Gue tersenyum tipis, ni anak teh suka becanda di waktu yang gak tepat


Ti(k)to(k)
Boong deng, hehe
Siapa tau kan ntar kalo emang jodoh, kita bisa satu atap. Kan nggak perlu jadian, karena kita udah tau sikap masing masing hehehe

Ti(k)to(k)
Tidur gih, biar nanti sahurnya nggak telat. Nice dream my love



Gue senyum senyum sendiri, apa ini termasuk berkah ramadhan? Hehehe

Menjadi lebih baik

Hallo~

Hari ini puasa Ramadhan pertama. Alhamdulillah masih bisa bertemu sama Ramadhan untuk yang ke sekian kalinya. Tahun ini merupakan tahun yang bisa dibilang cukup sulit untukku. Ada banyak halang rintangan yang terjadi. Aku bersyukur masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Beruntungnya aku memiliki banyak orang yang selalu sedia di sisi saat aku membutuhkan dorongan, saat aku membutuhkan motivasi diri, bahkan saat aku perlu hiburan.

Sampai saat aku menulis ini, keadaanku sedang tidak baik baik saja. Aku telah hancur sebanyak 3 kali. Aku tidak ingin hancur lagi. Aku percaya allah pasti memberikan yang terbaik untuk hambanya, sayangnya, ada beberapa orang yang tak mempercayai hal itu.

Aku masih disini, dengan memggenggam beberapa harapan yang ingin kujadikan nyata. Disini, dengan rapuhnya aku sekarang, aku butuh kalian. Tolong jangan sok tahu tentang rasa kecewa, mungkin aku jauh lebih paham tentang rasa itu sekarang. Atau, mungkin saja rasa kecewamu sekarang tidak lebih besar dari rasa kecewa yang kualami kini. Aku kecewa, bahkan pada diriku sendiri yang telah membuatmu kecewa. Tapi aku harus apa lagi? Aku sudah melakukan semuanya semampuku, aku sudah memberikan usaha terbaikku. Namun, sayangnya takdir belum mengijinkannya. Keberuntungan belum menghampiri diriku.

Hari ini aku tetap ditemani oleh seseorang yang spesial di hati. Namun, bukan yang lalu. Entah mengapa, aku merasa dia yang sekarang lebih baik dari yang sebelumnya. Dia lebih dewasa dalam memahami hidup, dia lebih dewasa dalam menghadapi rintangan. Dia juga lebih sabar menghadapiku. Ada beberapa hal yang kusampaikan secara tersirat padanya, terkait blog ini. Mari kita tunggu saja kabarnya ketika melihat tulisan ini, hehehe

Terimakasih telah bersabar menghadapiku, terimakasih karena masih disisi saat aku bukan lagi siapa siapa. Terimakasih karena telah menemani saat ku mengejar mimpi, dan masih disisi saat mimpi belum tercapai:)

Aku sayang kamu.
Aku sayang kalian.

Terimakasih karena telah membuatku menjadi semakin kuat setiap harinya.




Salam,
XXI