11 Ramadhan-
"Eh len,lo kan tinggi. Bukain pintunya dikit kek sono" suruh temanku,okta
Ya,kami memang sedang berada dimasjid untuk menunaikan ibadah tarawih. Kebetulan pintu masjidku ini mempunyai slot kunci yg berada diatasnya. Dan karena banyaknya ibu ibu yg membawa anak anak mereka,jadi yaa.. anak anak mereka berseliweran terus sedari tadi
"Apaan sih ah. Males. Udah biarin ajasih" balasku,aku memang sedang malas bergerak
"Lo gapunya hati banget ya len,galiat noh. Anak anak piyik piyik pada lari larian kesana kemari. Ntar kalo salah satu dari mereka nabrak pintu gimana?"
"Ya salah mereka sendiri itumah" aku masih kekeuh mempertahankan egoku
"Kenapa gak lo aja sono yg buka pintunya,ha?" Lanjutku
"Kalo gue tinggi,udah gue buka dari tadi pintunya,helen somplak!" Balas okta
"Nah. Yaudah helen,kamu buka pintunya aja sana. Kasian anak anak kecil yg lari larian,ntar kalo mereka ada yg jatuh gimana? Udah buka aja pintunya" suruh ibu ibu yg berada disampingku. Astaga okta,ini semua gara gara lo. Lagian ini ibu ibu segala pake ikut ikutan okta segala lagi ah. Racauku dalam hati. Tapi karena ini yang menyuruhku adalah ibu ibu,dia jauh lebih tua dariku. Dan dia juga teman ibuku,namanya Ibu Rasya. Dan karena aku juga anak yg baik,yang selalu menuruti apa kata orang yang lebih tua. Jadi mau tidak mau aku harus melaksanakannya
"Huh" aku berjalan gontai kearah pintu. Ya,pintu di masjid ini adalah pintu lipat,dan slot kuncinya berada diatas. Tapi kenapa harus aku?
Dengan malas aku meraih slot kuncinya
"Ah,kenapa gak nyampe?" Aku sedikit berjinjit,tapi masih belum sampai. Akhirnya aku melompat lompat kecil. Aku bisa melihat dari sini,bahwa teman temanku disana sedang menertawakanku. Ya,cici,lia,salma,dan juga okta. Dan okta yang terus menerus cekikikan sedari tadi. Ah,akan kubalas kau.
Tiba tiba ada sebuah tangan yang menggapai slot kunci
'Hah? Tangan siapa nih? Panjang amat' batinku
Aku segera mengalihkan pandanganku pada orang itu. Ah,ternyata dia laki laki
"Gak nyampe ya? Sini biar aku bantuin" ucapnya sambil sedikit terkekeh
Aku diam. Hanya diam. Dia.. sangat tampan. Rambutnya yang hitam legam dan tertutup kopiah sangatlah mempesona. Dia memakai baju koko,sarung,dan terlihat sampiran sajadah dibahunya. Astaga,dia benar benar membuatku terpesona. Dari postur badannya,sepertinya dia lebih tua 1 thn dariku
"Hah? E-e i.. iya" ucapku tergagap. Dan kini tak kudengar lagi sura tawa teman temanku. Ah,sepertinya mereka juga terpesona oleh pria disampingku.
"Woy,Hafidz! Mau solat kaga lu? Udh gue siapin tempat buat lu nih" lamunanku buyar saat aku mendengar teriakan itu. Hey,tunggu. Tadi dia memanggil apa? Hafidz? Ha-hafidz? Oh jadi namanya hafidz. Aku tersenyum kecil karena sudah mengetahui namanya.
"Udah kebuka nih,aku duluan ya" katanya. Aku hanya mengangguk. Sungguh,aku tak bisa berkata kata
Aku memandang punggungnya,memperhatikan setiap langkahnya. Eh? Kok? Dia bersama anak anak somplak?. Aris,Dani,Rayhan,dan juga.. Zain? Jangan bilang,kalau mereka berteman dengan hafidz. Oh tidak yatuhan,jangan rusak citra hafidz karena berteman dengan mereka. Mereka -minus zain- adalah pembuat onar disini. Barusan kemaren mereka bermain petasan,dan petasannya meledak di kaca mobil tetanggaku. Kemarinnya lagi mereka menumpahkan sebagian isi es buah yang sebenarnya diperuntukkan untuk ta'jil. Oh astaga,hafidz jangan bermain bersama mereka,terkecuali zain. Ya menurutku hanya zain yang paling diam. Dia tidak suka membuat onar seperti teman temannya yang lain. Bahkan beredar gossip kalau dia menyukaiku. Tapi tak ku hiraukan gossip itu. Oh ayolah,itu hanya sekedar gossip.
"Ekhem.. ekhem. Pintunya udah kebuka mba,ngapain lagi masih berdiri disitu?" Sindir salma
Oh iya,astaga. Karena sibuk memperhatikan hafidz,aku jadi lupa dengan pintu ini,hehe
"Iya iya,sabar dah ah" Aku berjalan gontai menuju rekan rekan somplakku.
"Kayaknya ada yg lagi jatuh cinta pada pandangan pertama nih" celetuk cici saat aku sudah terduduk diatas sajadah milikku.
"PJ jangan lupa lah" ucap temanku yg lain,lia
"Apaan sih ah" aku berusaha mati matian menutupi rona merah muda di pipiku,sementara mereka -teman temanku- malah terus memojokkanku. Sial
---
Apakah ini yang dinamakan berkah ramadhan? Diledekin habis habisan oleh teman temanku sendiri. Awas ya kalian. Aku terlalu asyik dengan celotehku sendiri,hingga tak sadar aku menabrak seseorang
"Ma..maaf.. maaf" ucapku spontan
Aku hanya menunduk,tapi kulihat ia memakai sarung,ah yang ku tabrak ini pasti pria
"Haha iyaiya,gapapa. Santai aja"balasnya
Astaga! Suara ini! Aku.. aku tahu ini suara siapa. Aku mendongakkan wajahku,bermaksud untuk melihat wajahnya. Dann.. benar saja. Orang yg kutabrak itu adalah Hafidz
"Eum..ma.. maaf maaf" ah sial,aku mulai gugup
"Gapapa,tenang aja"
"Eh,rumahmu dimana? Kita satu jalur gak nih?" Tanyanya,mencoba mencairkan suasana
"Eungg.. blok h atas,gang kedua dari depan" ucapku malu malu
"Wah,satu jalur dong. Aku juga di blok h atas,tapi aku gang ketiga dr depan"
"Ahaha,iya" astaga,apa yg terjadi dengan diriku ini? Apakah.. aku.. gugup? Tapi kenapa? Aku merasa ada yang mencoba keluar dari sini,dari rongga dadaku. Jantungku. Apakah ini yang dinamakan cinta?
"Oh iya,namamu siapa? Kita belum sempat berkenalan tadi" katanya
"H.. helen"
"Ooh,helen. Perkenalkan,namaku--"
"Hafidz kan?" Aku memotong perkataannya
"Kenapa kamu bisa tau?" Ah,apa yg baru saja kulakukan? Ini bodoh sekali,bodoh. Sangat bodoh.
Tapi tanpa sadar,kami berjalan beriringan menuju rumah kami masing masing,menghiraukan ocehan ocehan dari teman temanku dan juga teman teman hafidz
"Oy,pj dongg"
"Pokoknya traktir mi ayam pak dul yak len" ah itu pasti suara salma,dia sangat tergila gila dengan mi ayam
"Kalo gue mah pulsa ajadah len,5k juga gapapa kok,kuota gue sekarat nih" ini pasti okta,dia sangat.. yah,kalian tau. Tidak modal :v
"Kalo gue apa yakk? Aduh kok gue lupa,tadi gue pen minta apa ya?" Bahkan dari 'lemot'nya pun,semua orang pasti tau kalo itu cici
"Gue mah kaga usah neko neko deh,terserah lu mau kasih gue apa aja. Gue cuma berdoa yg terbaik aja buat kalian" Nah ini,temen gue yg beda dr yg lain. Dia satu satunya temen gue yang otaknya 'bener',Lia
"Woy,kaki lu jalan noh,pea"
"Helen! Pipi lu kenape? Kek kepiting rebus gitu? Wakakak"
"Hafidz,sleting belakang lu kebuka tuh,hahaha"
"Doh,helen hafidz. Kalo jalan gausah gugup gitudong. Santai aja. Detak jantung kalian sampe kedengeran dari sini nih"
Sepertinya gue gaperlu ngasih tau lagi,yang diatas itu pasti org org somplak yg kempretnye pleketek banget :v,iya anak anak somplak temennye hafidz
---
Semenjak hari itu,kita jadi sering bersama. Aku.. aku tak tahu hubungan apa yg sedang kita jalin. Yang aku tahu hanya, aku bahagia disampingnya.
Hey! Lagipula aku hanya bocah kelas 1 smp yang belum mengerti apa apa. Wajar kalau aku tak mengerti apaapa.
Semenjak hari itu juga,hafidz terlihat berbeda. Dia selalu peduli kepadaku,dia selalu tersenyum saat mengobrol denganku. Dia.. berubah menjadi seorang malaikat yang rupawan. Ah! Hari hariku semakin berwarna saat dia hadir didalam hidupku.
Sampai suatu ketika dia menghampiriku dengan raut wajah yang sedikit berbeda..
"Helen.." ucapnya
"Ya?"
"A-aku mau ngomong sesuatu sama kamu"
Jder! Aku seperti tersambar petir. Oh tuhan. Tolong. Dia jangan mengatakan yang macam macam
"M-mau ngomong a..apa?"
"Hh~~" dia menarik nafasnya panjang " Ayahku ditugaskan diluar kota. Dan aku juga harus ikut"
Zakrs! Bagai petir disiang bolong. A-aku aku tak mengira ini akan terjadi
"Lalu,kapan kamu akan pulang kembali?" Ya,itu satu satunya pertanyaan yang muncul dibenakku.
Dia mengangkat bahunya "Entahlah. Tapi percayalah,aku akan segera kembali" bibirnya melukis senyuman yang sangat indah di akhir kalimatnya
"Hm. Terus kapan kamu berangkat?"
"Hari ini."
"Hah? Kenapa mendadak sekali?" Aku tak percaya,ya tuhan. Tolong jangan biarkan dia pergi secepat ini dari hadapanku
"Hm. Ya,begitulah. Aku kesini hanya ingin memberitahukan hal itu kepadamu. Kuharap kau dapat menerimanya"
Dia berbalik arah. Rupanya ayah ibunya telah menunggu sedari tadi disamping mobilnya.
Melihat orang tuanya,aku hanya menyapa dengan senyuman hambar. Oh okta,lia,cici,salma. Dimana kalian saat aku sedang terpuruk seperti ini?
Hafidz menaiki mobilnya,dia duduk di kursi penumpang. Lalu menurunkan kaca jendelanya. Aku melihatnya. Aku melihat dia melambaikan telapak tangannya padaku,oh astaga. Apakah ini akhir dari hubungan kami?
Hey! Tunggu. Dia tersenyum kearahku. Sorot matanya juga berbeda,seolah mengatakan 'jangan khawatir. Aku akan segera kembali untuk menemuimu'
Ya. Aku percaya. Aku percaya padamu,hafidz. Aku akan selalu menantimu disini.
Sementara itu,aku tak sadar. Bahwa okta,lia,salma,cici,aris,dani,rayhan,dan juga zain. Ya,mereka juga ikut melepas kepergian Hafidz.
---
3 tahun kemudian..
"Ck," aku hanya berdecak
"Dimana janjimu? Kau bilang,kau akan segera kembali dan menemuiku. Tapi mana buktinya? Ini sudah tahun ketiga semenjak kepergianmu. Aku masih disini hafidz,masih disini untuk menunggumu,menantimu. Berharap kau akan segera muncul dan tersenyum lagi kepadaku,seperti dulu. Bahkan aku masih disini,dengan perasaan yang sama. Sama,seperti 3 tahun yang lalu. Tak berubah sedikitpun" gumamku.
Ya,ini tanggal 10 ramadhan tahun ketiga semenjak kepergian hafidz. Bahkan setiap ramadhan datang,dan waktunya tarawih. Aku selalu mengedarkan pandanganku di barisan shaf pria. Berharap dirimu berada disana,hafidz. Tapi kau sama sekali tak berada di sana. Aku tak berputus asa. Aku selalu menantimu.
"Helen? Lo taukan,kakak senior yang namanya kak galih itu? Waktu itu dia yang nge-mos-in gue. Duhh,dia idaman banget loh len. Putih,tinggi,mancung"
"Apaan sih ta,kerenan juga kak reza. Cool gitu,ramah sama semuanya. Rajin shalat,bahkan dia kesekolah aja naik sepeda. Hebat kan? Patut dicontoh itu" balas cici
"Hih. Lo berdua rempong deh. Ya tetep aja dari segi manapun,kak bagas yang jadi juaranya. Dia mancung,putih,tinggi,rajin shalat,ketua osis,ramah sama semua orang,gapernah mainin cewek. Duhh" Salma ikut nyerocos
"Lu kenapa len? Hafidz lagi?" Hm,lia emang peka banget
"Len?" Lia mengguncang guncangkan tubuhku
"Eeh,iya li. Ada apa?" Aku yang baru tersadar dari lamunanku hanya memasang tampang polos
"Hafidz lagi?" Tanyanya
"Hm"
"Daripada lu kek gini. Mending lu tanya aja noh sama si dani,rayhan,aris,zain. Mereka kan temennya hafidz"
"Bener juga sih. Yaudah ntar gue tanya"
Yup. Sekarang kita lagi ada di masjid untuk melaksanakan ibadah tarawih. Dan karena ini waktunya kultum,yaa kalian taulah. Pasti kalo lagi kultum,jamaahnya asik sendiri. Ya kayak mereka mereka ini *lirik okta,cici,salma
"Apaan sih? Kak galih yang paling perfect"
"Hey! Kak galih udah punya pacar! Pacarnya cakep lagi,gakayak elu. Jelas kak reza lah kemana mana"
"Lo gatau? Kak reza kan kemaren hbs ditembak sama kak risa. Anak 11 Ipa1 yang cantiknya itu.. beuhh. Kak reza klepek klepek dah. Mending juga kak bagas"
"Tapikan belum tentu juga kak reza mau nerima kak risa. Secara tipe tipenya kak reza itukan gue"
"Hih,lagian kak galih sama kak manda cuma pacaran doang kan? Pacaran mah bisa putus kalee. Yang gabisa putus tuh ini,cintanya gue buat kak galih. Gabakal putus dah,dijamin"
"Apaan sih kalian ini. Jelas kak bagas yang paling top"
"Kak reza yang paling perfect oy"
"Kak galih segala galanya dah"
Duh,gabakal ada ujungnya kalo ngurusin mereka bertiga mah
---
"Eh,dan. Gue pen nanya dong" aku memberanikan diri utk bertanya pada mereka
"Nanya apaan lu? Hafidz?" Potong rayhan
"Yaelah masih ngarepin dia ajelu. Mending sama gue aja sini,gue lebih ganteng dari hafidz kok"
"Apaan sih lu ris,gausah kepedean gitu deh,haha. Iya dan,rey. Hafidz gimana? Kok gaada kabar?"
"Haduh len,bukannya kita gamau bantu atau gimana yak. Tapi kita sendiri juga gatau kabarnya" ucap dani
"Duh,gitu ya" nadaku melemas,huh
"Kan udah gue bilang,mending sama gue aje,haha" tambah aris
"Udeh ayok pulang. Aris lupa minum ibat nih keknya :v" kata reyhan sambil menarik paksa aris dari hadapanku
"Hm,yaudah. Kita pulang ya len"
Aku hanya mengangguk
Tunggu,sepertinya ada yg berbeda dari zain. Dia tadi tak berkata apa apa. Atau mungkin dia sedang badmood? Ah sudahlah. Tak ada pentingnya juga ngurusin dia
---
Ya,sekarang tanggal 11 ramadhan di rahun ke3 semenjak kepergianmu,hafidz. Ingatkah kau,ini tanggal yang sama saat kita pertama kali bertemu dulu
"Hosh.. hosh. Ah sial,karena kebanyakan mimpiin hafidz,jadi hampir lupa sama tarawih. Mudah mudahan masih dapet tempat deh ah"
Ya,aku sendirian berangkat tarawih hari ini. Tadi okta sudah kusamper,tapi dia sedang pms -_- cici? Dia sibuk mengajak adiknya,ima. Jalan jalan,hufft. Lalu salma? Lia? Tadi sudah kusamper,tapi katanya mereka sudah berangkat duluan. Ah,jahat sekali mereka,meninggalkanku sendirian.
Aku terburu buru memasuki pintu masjid. Ah,jangan sampai telat. Tapi.. brugh
Sial. Aku bersentuhan dengan pria,aku harus mengulang wudhuku kembali. Dasar sialan.
"Eh,aduhh" ucap pria itu
Hah? Sepertinya aku mengenal suaranya. Suaranya terdengar asing,tapi seperti sudah familiar di telingaku
Aku mendongakkak wajahku,bermaksud untuk melihat wajah pria itu,lalu aku juga akan memaki makinya. Gara gara dia,aku hrs mengulang wudhuku
"Hey,kalo jalan yang ben..."
Kalimatku terputus tatkala aku melihat wajahnya,wajah.. wajah ini. Dia,Hafidz
"Eh? Hai len" dia menyunggingkan senyumnya. Senyum yang bisa membuatku mencair,melebur,juga menguap ^ω^
"Maaf ya,wudhu nya jadi batal deh" lanjutnya sambil tersenyum lagi. Ah,hentikan hafidz. Tolong jangan tersenyum lagi seperti ini. Ku mohon.
Aku terpaku beberapa detik melihat wajahnya. I-ini seperti mimpi. Benarkah yang dihadapanku sekarang ini adalah hafidz? Hafidz yang telah kunantikan selama ini? Oh,hey. Kemana saja kau selama ini?
'Aku rindu padamu'
'Benarkah ini kamu?'
'Kemana saja kamu selama ini?'
'Tak tahu kah kamu,kalau selama ini aku maaih setia menunggumu?'
'Dan kini,tiba tiba kau berada dihadapanku. Sambil tersenyum manis padaku?'
'Ah,apa kau ini gila?'
'Kau membuat seorang gadis sepertiku menunggu lama,dan sekarang. Kau hadir dihadapanku. Lalu tersenyum tanpa dosa?'
'Bagaimana kau bisa melakukan itu? Sedangkan aku setiap hari meringis,menanti kedatanganmu'
Semua pertanyaan pertanyaan itu memenuhi benakku,memenuhi otakku. Sehingga aku tak dapat berfikir secara normal. Ah.
Aku refleks mengambil sajadahku,yang tadinya kusampirkan dibahuku. Aku mengambil sajadahku,lalu memukulinya
'Bugh! Bugh!'
"Aw.. aw.. hentikan len. Ah,sakit tau" katanya meringis
"Kemana aja? Aku capek tau nungguin kamu" balasku,masih sambil memukulinya
"Helen,helen,dengerin aku dulu" dia menggenggam lengan kananku,menyuruh ku untuk berhenti memukulinya. Tapi aku tak kehabisan akal,aku memindahkan sajadah yang kugenggam tadi ke tangan kiriku. Lalu lanjut memukulinya lagi
"Helen,berhenti!" Kali ini dia berontak,sepertinya dia marah. Aku ternganga,tak percaya dia bisa marah kepadaku. Dan.. yah,dia pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saat aku sedang ternganga,tak percaya dia membentakku. Dia segera menggenggam lengan kiriku. Ah,aku skakmat.
"Huh.." dia membuang nafasnya kasar
"Maaf,tadi gak bermaksud buat marah. Kamu sih mukulin aku terus,kan sakit" lanjutnya
"Habis aku kesel,kamu kemana aja? Aku kan capek nungguin kamu disini" aku membela diri
"Hh.. yah. Memang sepertinya aku pergi terlalu lama. Maafkan aku. Tapi sekarang yang penting,aku udah kembali. Kembali buat kamu" Balasnya,dan kali ini dia tersenyum lagi. Tapi senyuman yang berbeda,inii.. lebih.. manis ^.^
"Jadi maafin aku ya. Kamu senyum dong"
dia melukis senyuman di bibirku
"Nah gitu.. kan cantik" pujinya
Aku masih terpaku.. benar benar terpaku. Sampai ada suara tawa yang menyadarkanku
"Duh,pj dongg"
"Mi ayam len,jan lupa"
"Hafidz kesini gabilang bilang,tiba tiba udh disamping helen aja. Haha"
"Kemane aje lu,fidz? Si helen nanyain mulu noh"
"Iye,pagi siang sore malem. Mikirinnya elu mulu,fidz"
Hafidz tersenyum ke arahku. Aku.. blush.
Eh tunggu,ada yang mengganjal. Ada yang salah.
Aku segera membalikkan tubuhku. Menghadap teman temannya hafidz
"Tapi.. siapa yang membuat hafidz kesini?" Aku melirik hafidz "kamu tinggal dimana?"
Lalu dengan santainya,hafidz menjawab "dirumah zain"
"Zain?"
"Iya,dia nelpon aku kemaren. Nyuruh aku dateng kesini. Nyuruh aku nginep dirumahnya. Jadi.. aku kesini deh"
Aku menatap zain
"Z..zain?"
sementara yang kutatap hanya menundukkan wajahnya,menghindari tatapanku
"Hm.. yang penting Hafidz udah dateng kan?" Katanya sambil nyengir kuda "haha"
"Hahaha" kami semua tertawa. Tapi ada yang aneh lagi. Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling.
Jadi,apakah ini berkah ramdhan untukku tahun ini?
"Astaga. A.. apa shalat isya nya udah selesai?" Aku melihat semua orang menatap kami. Oh astaga,kami menjadi bahan tontonan
"Ya,tentu saja. Seperti yang kau lihat sendiri" jawab dani santai
"Astaga" aku mengedarkan pandanganku lagi. Sepertinya ada yang menatapku dengan tatapan tajam disana. Setelah kulihat lebih detail
Astaga. Itu Ibu Rasya. Bahkan sampai saat inipun,dia masih berteman baik dengan ibuku. Ah,dia pasti akan melaporkan kejadian ini pada ibuku.
Sial. Tamatlah riwayatku.
----- Tamat -----
Maaf kalo typo bertebaran dimana mana :v maklum,penulis abal abal :v
Maaf juga kalo bahasanya gak karuan. Yang gue pikir sih,kalo ke temen deket. Manggilnya gue-elu. Biar keliatan gokil. Kalo ke 'pujaan hati' njirr :v wkwk. Manggilnya aku-kamu. Biar lebih sweet :v
Pokoknyaa makasih buat yang udah mau baca. Makasih juga udah ngijinin namanya gue pake *walaupun sebenernya gak ijin dulu tadi :v :v
'Jika kau benar benar menyayanginya,maka biarkanlah dia bahagia dengan pilihannya sendiri'. - Zain